Browse Items (96 total)
Sort by:
FENOMENA KEPERCAYAAN MITOS “BORN TO FLY” TERHADAP TINGKAT KEPERCAYAAN DIRI SISWA PENERBANG DALAM PELAKSANAAN FASE TERBANG MAHASISWA API BANYUWANGI
Di Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi, Mitos “Born To Fly” semakin naik popularitasnya di kalangan siswa penerbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena kepercayaan mitos “Born To Fly” terhadap tingkat kepercayaan diri siswa penerbang dalam pelaksanaan fase terbang mahasiswa API Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik analisis data kualitatif deskriptif yang menggunakan wawancara dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menujukkan bahwa gelar “Born To Fly” bisa diraih dengan cara memenuhi tiga aspek pendukung yaitu kognitif, psikomotorik , dan afektif. Terdapat tiga efek yang ditimbulkan dari gelar “Born To Fly”, efek positif, negatif, dan tidak berefek. Berefek positif terhadap Siswa penerbang dengan gelar “Born To Fly” dikarenakan semakin percaya diri dan termotivasi, berefek negatif terhadap rekan dari siswa penerbang yang mempunyai julukan tersebut seperti merasa iri dan menurunnya kepercayaan diri, tidak berefek menurut sudut pandang dari Flight Instructor dikarenakan kesuksesan dalam penerbangan tergantung dari cara siswa penerbang menyikapi suatu permasalahan.
IDENTIFIKASI FAKTOR HUMAN ERROR PADA MAHASISWA PENERBANG DI AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI SAAT MELAKSANAKAN FASE SOLO FLIGHT
Kegiatan terbang merupakan kegiatan yang memerlukan tingkat konsentrasi dan keterampilan yang tinggi. Human Error memegang peranan penting dalam keselamatan ins. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor human error yang mungkin terjadi pada mahasiswa penerbang di Akademi Penerbang Indonesia, khususnya saat mereka menjalani fase solo flight. Fase solo flight merupakan tahap kritis dalam pelatihan terbang di mana mahasiswa penerbang mulai terlibat dalam terbang solo tanpa instruktur. Keberhasilan dalam tahap ini membutuhkan konsentrasi, pengambilan keputusan yang tepat, dan keterampilan teknis yang baik. Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kualitatif Metode penelitian ini melibatkan analisis trip report terbang solo dan kuesioner yang diisi oleh mahasiswa. Data dari kedua sumber ini akan dianalisis secara kualitatif untuk memahami konteks dan faktor-faktor penyebab human error dalam terbang solo. Hasil penelitianini diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang peran human factor dalam kesalahan yang terjadi dalam penerbangan serta rekomendasi untuk meningkatkan keselamatan penerbangan.
IDENTIFIKASI LATIHAN SIMULATOR REDBIRD TD2 PADA KESIAPAN PROCEDURE FASE INSTRUMENT RATING MAHASISWA PENERBANG AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas latihan menggunakan simulator Redbird TD2 dalam mempersiapkan fase Instrument Rating mahasiswa penerbang Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Fase Instrument Rating adalah fase penting dalam pelatihan penerbangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, melibatkan populasi mahasiswa penerbang yang telah memiliki pengalaman latihan simulator Redbird TD2. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisis untuk mengukur simulator Redbird TD2 memiliki peran yang sangat signifikan terhadap fase Instrument Rating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan menggunakan simulator Redbird TD2 secara signifikan meningkatkan pemahaman keterampilan dan kepercayaan diri mahasiswa penerbang dalam menjalani fase Instrument Rating.
Implementasi Teknologi Pengenalan Wajah Pada Sistem Verifikasi Taruna API Banyuwangi Menggunakan Algoritma Haar Cascade
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan proses verifikasi identitas taruna di API Banyuwangi melalui implementasi teknologi pengenalan wajah menggunakan algoritma Haar Cascade. Dalam penelitian ini, metode eksperimental dan analisis statistik digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari serangkaian tahapan pengolahan, termasuk konversi RGB to grayscale, resize image, dan cropping. Data diperoleh melalui pengumpulan citra wajah menggunakan webcam dan diolah untuk melatih model serta menguji keberhasilan sistem verifikasi. Analisis statistik menunjukkan bahwa teknik preprocessing memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan verifikasi, sementara metode pengenalan wajah juga relevan. Namun, data tidak terdistribusi secara normal, menandakan perlunya pendekatan analisis alternatif. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan yang berharga tentang potensi teknologi pengenalan wajah dalam meningkatkan efisiensi dan keamanan dalam manajemen identitas di lembaga pendidikan, sementara juga menyoroti kebutuhan akan penelitian lanjutan untuk pengembangan metode dan pemahaman yang lebih mendalam.
OPTIMALISASI EMISI KARBON DIOKSIDA PESAWAT UDARA MELALUI GAS BUANG SESUAI PERSYARATAN STANDAR: TINJAUAN PUSTAKA, WAWASAN, DAN PELUANG PENELITIAN
Perubahan iklim global merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Emisi karbon dioksida (CO2) dari sektor penerbangan menjadi kontributor utama terhadap perubahan iklim. Data dari International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa sektor penerbangan menyumbang sekitar 2-3% dari total emisi CO2 global. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi teknologi dan strategi yang efektif dalam mengurangi emisi CO2 dari pesawat udara. Studi oleh Jensen et al. (2023) memperkirakan peningkatan signifikan emisi CO2 dari sektor penerbangan tanpa tindakan mitigasi. Penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan
(sustainable aviation fuels) dapat menjadi solusi untuk mengurangi emisi CO2. Optimalisasi desain aerodinamis pesawat juga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi CO2. Di Indonesia, menunjukkan bahwa peningkatan GDP per kapita dan konsumsi energi berkontribusi pada peningkatan emisi CO2 dari sektor penerbangan. Oleh karena itu, diperlukan strategi komprehensif untuk mengurangi emisi CO2 di sektor
penerbangan Indonesia. Rumusan masalah penelitian ini mencakup kondisi emisi CO2 dari pesawat udara di tingkat global dan nasional, teknologi dan strategi pengurangan emisi, efektivitas bahan bakar penerbangan berkelanjutan, tantangan dan peluang dalam pengurangan
emisi, serta dampak kebijakan dan regulasi terhadap pengurangan emisi CO2. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan analitis dengan pengumpulan data sekunder dari berbagai sumber. Analisis data melibatkan teknik deskriptif, regresi, korelasi, dan komparatif untuk mengevaluasi teknologi dan strategi pengurangan emisi CO2. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan dasar untuk pengembangan
kebijakan yang lebih efektif dalam mengurangi emisi CO2 dari sektor penerbangan.
(sustainable aviation fuels) dapat menjadi solusi untuk mengurangi emisi CO2. Optimalisasi desain aerodinamis pesawat juga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi CO2. Di Indonesia, menunjukkan bahwa peningkatan GDP per kapita dan konsumsi energi berkontribusi pada peningkatan emisi CO2 dari sektor penerbangan. Oleh karena itu, diperlukan strategi komprehensif untuk mengurangi emisi CO2 di sektor
penerbangan Indonesia. Rumusan masalah penelitian ini mencakup kondisi emisi CO2 dari pesawat udara di tingkat global dan nasional, teknologi dan strategi pengurangan emisi, efektivitas bahan bakar penerbangan berkelanjutan, tantangan dan peluang dalam pengurangan
emisi, serta dampak kebijakan dan regulasi terhadap pengurangan emisi CO2. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan analitis dengan pengumpulan data sekunder dari berbagai sumber. Analisis data melibatkan teknik deskriptif, regresi, korelasi, dan komparatif untuk mengevaluasi teknologi dan strategi pengurangan emisi CO2. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan dasar untuk pengembangan
kebijakan yang lebih efektif dalam mengurangi emisi CO2 dari sektor penerbangan.
OPTIMALISASI PENANGANAN PENYEBAB DELAY TERHADAP ON TIME PERFORMANCE
Penerbangan menggunakan layanan maskapai merupakan pengalaman yang memadukan sisi keamanan, kenyamanan, dan efisiensi. Tetapi faktanya, maskapai Citilink Indonesia belum bisa memberikan pelayanan yang terbaik, termasuk berangkat dan tiba tepat waktu kepada seluruh penumpang Citilink Indonesia. Menurut Aras (2023), tingkat ketepatan waktu keberangkatan dan ketepatan waktu kedatangan penerbangan Citilink Indonesia pada Quartal 4 tahun 2022 dibawah target OTP yang
sudah ditetapkan yaitu 90%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor penyebab delay, mengetahui penanganan penyebab delay, dan memberikan rekomendasi bagi Citilink Indonesia dalam penanganan penyebab delay terhadap on time performance. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan objek penelitian data delay report Citilink Indonesia pada bulan November 2023, dan teknik pengumpulan
data melalui studi pustaka dan wawancara dengan pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknik dan operasional dibandara keberangkatan memberikan delay yang signifikan terhadap data delay report Citilink Indonesia pada bulan November 2023.
sudah ditetapkan yaitu 90%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor penyebab delay, mengetahui penanganan penyebab delay, dan memberikan rekomendasi bagi Citilink Indonesia dalam penanganan penyebab delay terhadap on time performance. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan objek penelitian data delay report Citilink Indonesia pada bulan November 2023, dan teknik pengumpulan
data melalui studi pustaka dan wawancara dengan pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknik dan operasional dibandara keberangkatan memberikan delay yang signifikan terhadap data delay report Citilink Indonesia pada bulan November 2023.
OPTIMALISASI PENGAWASAN PENGGUNAAN SAFETY EQUIPMENT PERSONEL PENERBANGAN DI APRON AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI
Tugas akhir ini bertujuan untuk memberikan evaluasi dan mengoptimalisasi pengawasan penggunaan safety equipment personel
penerbangan di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang melibatkan observasi langsung, wawancara serius dengan pihak terkait dengan operasional penerbangan dan analisis dokumen terkait kebijakan pengawasan penggunaan safety equipment di area apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada SOP atau aturan yang mengatur
pengawasan penggunaan safety equipment di area tersebut, sehingga tidak ada pedoman untuk mengoptimalkan pengawasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi pengawasan meliputi kesadaran individu dan komitmen terhadap keselamatan. Strategi yang diusulkan mencakup pembuatan SOP atau aturan terkait, penunjukan unit yang bertanggung jawab, serta pelaksanaan sosialisasi dan refreshment mengenai pentingnya penggunaan safety equipment serta pengawasan yang seharusnya dilakukan oleh pihak berwenang. Saran yang diberikan adalah pembuatan SOP atau aturan mengenai pengawasan penggunaan safety equipment dan penunjukan personel atau unit yang bertanggung jawab di apron. Setelah SOP diberlakukan, perlu dilakukan sosialisasi kepada semua personel atau pengguna apron, serta pengecekan rutin
di area apron. Selain itu, kerjasama dengan Angkasa Pura 2 diusulkan untuk mendelegasikan pengawasan apron di Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi.
penerbangan di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang melibatkan observasi langsung, wawancara serius dengan pihak terkait dengan operasional penerbangan dan analisis dokumen terkait kebijakan pengawasan penggunaan safety equipment di area apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada SOP atau aturan yang mengatur
pengawasan penggunaan safety equipment di area tersebut, sehingga tidak ada pedoman untuk mengoptimalkan pengawasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi pengawasan meliputi kesadaran individu dan komitmen terhadap keselamatan. Strategi yang diusulkan mencakup pembuatan SOP atau aturan terkait, penunjukan unit yang bertanggung jawab, serta pelaksanaan sosialisasi dan refreshment mengenai pentingnya penggunaan safety equipment serta pengawasan yang seharusnya dilakukan oleh pihak berwenang. Saran yang diberikan adalah pembuatan SOP atau aturan mengenai pengawasan penggunaan safety equipment dan penunjukan personel atau unit yang bertanggung jawab di apron. Setelah SOP diberlakukan, perlu dilakukan sosialisasi kepada semua personel atau pengguna apron, serta pengecekan rutin
di area apron. Selain itu, kerjasama dengan Angkasa Pura 2 diusulkan untuk mendelegasikan pengawasan apron di Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi.

