Browse Items (96 total)
Sort by:
BLUCross-Functional Integrationhuman resource managementorganizational performancePublic Service AgenciesTotal Quality Managementtransportation sector
PERFORMANCE ANALYSIS OF HIGHER EDUCATION PUBLIC SERVICE AGENCIES: A CASE STUDY OF THE INDONESIAN CIVIL PILOT ACADEMY BANYUWANGI
A Public Service Agency, known by the Indonesian nomenclature as Badan Layanan Umum (BLU), is a government institution with the autonomy to manage its finances effectively and efficiently and provide public services. BLU is crucial in delivering essential services in Indonesia, including specialized education in the transportation sector. Despite their
significance, BLU institutions like the Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi face operational inefficiencies, financial constraints, and human resource challenges hindering
organizational performance. This study investigates these challenges, focusing on how financial management, human resource issues, and operational inefficiencies affect educational outcomes. The research employed a qualitative case study approach, using semi-structured interviews,
document analysis, and field observations. Data were collected from key stakeholders, including students, lecturers, and staff, to assess organizational performance in the educational process, human resource management, and general operations. Findings reveal that while facilities and educator engagement have improved, issues such as lecturer absenteeism, student input quality, and the need for continuous staff training persist. This study contributes to the body of knowledge by demonstrating the critical role of Total Quality Management (TQM) and Cross-Functional Integration (CFI) in improving public service agency performance. The research offers practical recommendations for enhancing lecturer performance, refining student admissions, and developing powermen through sustainable training. Study This expectation can give Public
Service Agency management an outlook for increasing performance organization and support mission, as well as the Agency of Human Resources Development (BPSDM) on Transportation vision.
significance, BLU institutions like the Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi face operational inefficiencies, financial constraints, and human resource challenges hindering
organizational performance. This study investigates these challenges, focusing on how financial management, human resource issues, and operational inefficiencies affect educational outcomes. The research employed a qualitative case study approach, using semi-structured interviews,
document analysis, and field observations. Data were collected from key stakeholders, including students, lecturers, and staff, to assess organizational performance in the educational process, human resource management, and general operations. Findings reveal that while facilities and educator engagement have improved, issues such as lecturer absenteeism, student input quality, and the need for continuous staff training persist. This study contributes to the body of knowledge by demonstrating the critical role of Total Quality Management (TQM) and Cross-Functional Integration (CFI) in improving public service agency performance. The research offers practical recommendations for enhancing lecturer performance, refining student admissions, and developing powermen through sustainable training. Study This expectation can give Public
Service Agency management an outlook for increasing performance organization and support mission, as well as the Agency of Human Resources Development (BPSDM) on Transportation vision.
PERAN SEAPLANE DALAM MENDORONG KONSEP PARIWISATA BERKELANJUTAN DI INDONESIA
Penelitian ini membahas peran pesawat amfibi dalam mendorong konsep
pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Kepulauan Indonesia yang unik, dengan lebih dari 17.000 pulau, menunjukkan tantangan besar dalam hal transportasi dan aksesibilitas, yang mempengaruhi sektor pariwisata. Pariwisata berkelanjutan, dengan penekanan pada integritas lingkungan, kelayakan ekonomi, dan keadilan sosial, menjadi penting untuk melestarikan sumber daya alam dan budaya negara serta menjamin kelangsungan industri pariwisata dalam jangka panjang. Pesawat
amfibi muncul sebagai solusi inovatif terhadap permasalahan aksesibilitas ke pulaupulau terpencil di Indonesia. Namun, integrasi pesawat amfibi ke dalam sektor pariwisata Indonesia dan penyelarasannya dengan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan merupakan permasalahan kompleks. Dampak pesawat amfibi terhadap lingkungan, kelayakan ekonomi, implikasi sosial, dan tantangan operasional serta peraturan terkait penggunaannya perlu dieksplorasi lebih lanjut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner survey dan analisis data sekunder terhadap pemangku. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif dan analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi keberhasilan operasi pesawat amfibi dalam mempromosikan praktik pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi pengetahuan dan rekomendasi kepada para pembuat kebijakan, operator pariwisata, dan aktivis lingkungan hidup untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di sektor pariwisata
Indonesia. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran komprehensif tentang potensi manfaat, tantangan, dan dampak pesawat amfibi dalam mendorong praktik pariwisata berkelanjutan di Indonesia, serta mengidentifikasi kesenjangan dan peluang untuk penelitian di masa depan.
pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Kepulauan Indonesia yang unik, dengan lebih dari 17.000 pulau, menunjukkan tantangan besar dalam hal transportasi dan aksesibilitas, yang mempengaruhi sektor pariwisata. Pariwisata berkelanjutan, dengan penekanan pada integritas lingkungan, kelayakan ekonomi, dan keadilan sosial, menjadi penting untuk melestarikan sumber daya alam dan budaya negara serta menjamin kelangsungan industri pariwisata dalam jangka panjang. Pesawat
amfibi muncul sebagai solusi inovatif terhadap permasalahan aksesibilitas ke pulaupulau terpencil di Indonesia. Namun, integrasi pesawat amfibi ke dalam sektor pariwisata Indonesia dan penyelarasannya dengan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan merupakan permasalahan kompleks. Dampak pesawat amfibi terhadap lingkungan, kelayakan ekonomi, implikasi sosial, dan tantangan operasional serta peraturan terkait penggunaannya perlu dieksplorasi lebih lanjut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner survey dan analisis data sekunder terhadap pemangku. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif dan analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi keberhasilan operasi pesawat amfibi dalam mempromosikan praktik pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi pengetahuan dan rekomendasi kepada para pembuat kebijakan, operator pariwisata, dan aktivis lingkungan hidup untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di sektor pariwisata
Indonesia. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran komprehensif tentang potensi manfaat, tantangan, dan dampak pesawat amfibi dalam mendorong praktik pariwisata berkelanjutan di Indonesia, serta mengidentifikasi kesenjangan dan peluang untuk penelitian di masa depan.
PENGGUNAAN FLIGHT DATA LOGGER UNTUK MENGANALISA DAMPAK MODIFIKASI SEAPLANE PADA KINERJA TAKE OFF CESSNA PK-APH: STUDI KOMPARASI
Pada penelitian ini dilakukan studi komparasi take off performance antara pesawat yang telah dimodifikasi menjadi pesawat seaplane (amfibi) dan pesawat Cessna standar sebelum dimodifikasi, menggunakan metode pengambilan data dari flight data recorder Garmin G1000 yang disebut dengan flight data logger. Dalam hal ini, data yang dipilih adalah berdasarkan pada satu pesawat yang sama, yakni dengan registrasi PK-APH, namun data difilterisasi dengan berbagai kondisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh modifikasi seaplane (amfibi) yang telah dilakukan dari segi fase climbing, perbandingan ground roll, maksimal ground speed serta maksimal airspeed. Analisis menunjukkan perbedaan signifikan antara pesawat sebelum dan setelah dimodifikasi menjadi pesawat seaplane. Sebelum modifikasi, pesawat mencapai ketinggian 478,4 kaki diatas permukaan laut dalam 60 detik setelah lepas landas, sedangkan setelah modifikasi hanya mencapai 355,7 kaki di atas permukaan laut. Ground speed pada detik ke-20 juga berbeda, dengan pesawat sebelum modifikasi mencapai 60,69 knots dan pesawat seaplane hanya mencapai 48,65 knots. Perbedaan terlihat pada airspeed awal saat take-off, di mana pesawat sebelum modifikasi memiliki angka 71 knots pada detik ke-24, sedangkan pesawat seaplane memiliki angka 66 knots.
PENGEMBANGAN PRODUK DAN LAYANAN SEAPLANE HIGH END: EVALUASI MELALUI ANALISIS SWOT
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi potensi pengembangan produk dan layanan dalam konteks layanan seaplane high end menggunakan analisis SWOT. Penelitian ini mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam pengalaman pelanggan, aspek keamanan, fleksibilitas rute, dan kenyamanan yang ditawarkan oleh layanan seaplane high end. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi peluang pertumbuhan seperti permintaan yang meningkat dari pasar pariwisata mewah dan segmen pasar baru yang mungkin belum terpenuhi. Ancaman seperti persaingan dari moda transportasi alternatif dan perubahan regulasi penerbangan juga dipertimbangkan. Hasil analisis SWOT memberikan wawasan tentang strategi pengembangan produk dan layanan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan daya saing dan
memperluas pangsa pasar dalam industri layanan seaplane high end. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam konteks layanan seaplane high end. Kekuatan
produk dan layanan seaplane high end meliputi kenyamanan, kemewahan, keamanan, dan kepuasan pelanggan. Di sisi lain, kelemahan produk dan layanan seaplane high end mencakup keterbatasan aksesibilitas dan tantangan operasional.
Selanjutnya, penelitian ini mengidentifikasi peluang pengembangan produk dan layanan, seperti permintaan yang berkembang dalam pariwisata mewah dan potensi segmen pasar baru. Ancaman terhadap layanan seaplane high end termasuk persaingan dari moda transportasi alternatif dan regulasi penerbangan serta lingkungan operasional.
Kesimpulan penelitian ini memberikan ringkasan temuan dan implikasi untuk pengembangan layanan seaplane high end. Penelitian ini juga menyarankan ruang lingkup penelitian lanjutan untuk melanjutkan pemahaman tentang industri ini. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi yang efektif untuk memperkuat posisi seaplane high end dalam industri penerbangan global.
memperluas pangsa pasar dalam industri layanan seaplane high end. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam konteks layanan seaplane high end. Kekuatan
produk dan layanan seaplane high end meliputi kenyamanan, kemewahan, keamanan, dan kepuasan pelanggan. Di sisi lain, kelemahan produk dan layanan seaplane high end mencakup keterbatasan aksesibilitas dan tantangan operasional.
Selanjutnya, penelitian ini mengidentifikasi peluang pengembangan produk dan layanan, seperti permintaan yang berkembang dalam pariwisata mewah dan potensi segmen pasar baru. Ancaman terhadap layanan seaplane high end termasuk persaingan dari moda transportasi alternatif dan regulasi penerbangan serta lingkungan operasional.
Kesimpulan penelitian ini memberikan ringkasan temuan dan implikasi untuk pengembangan layanan seaplane high end. Penelitian ini juga menyarankan ruang lingkup penelitian lanjutan untuk melanjutkan pemahaman tentang industri ini. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi yang efektif untuk memperkuat posisi seaplane high end dalam industri penerbangan global.
PENGARUH.PENGALAMAN.ON.THE.JOB.TRAINING DAN MOTIVASI TERHADAP KESIAPAN KERJA TARUNA DIPLOMA TIGA DI AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI
On the Job Training merupakan suatu pembekalan pengetahuan dan
pengalaman kerja melalui motivasi yang dapat menimbulkan semangat atau dorongan terhadap kesiapan kerja yang matang baik secara pengetahuan, keahlian dan informasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana taruna yang terdaftar pada program diploma tiga tahun API Banyuwangi dipersiapkan, khususnya terkait dengan motivasi dan pelatihan kerja. Dengan menyebarkan kuesioner, penelitian menggunakan metodologi kuantitatif dengan sampel sebanyak 26 taruna. Dengan menggunakan software SPSS 29, data yang terkumpul dilakukan
uji validitas, uji reliabilitas, analisis regresi berganda, uji hipotesis, analisis
koefisien determinasi, dan uji asumsi klasik. Studi ini menemukan bahwa dan On the Job Training dipengaruhi oleh motivasi, baik secara terpisah maupun kombinasi, mempunyai pengaruh yang kecil terhadap persiapan memasuki dunia kerja. Selain itu, analisis statistik menunjukkan bahwa nilai f dan nilai t masingmasing kurang dari atau sama dengan nilai f dan nilai t yang penting. Kesiapan kerja dipengaruhi oleh motivasi dan On the Job Training sebesar 8,7%, sedangkan variabel lain di luar model menyumbang 91,3% variasi. Dengan menawarkan kerangka konseptual yang lebih relevan untuk setiap program studi dan menciptakan taktik insentif karyawan yang lebih berhasil, penelitian ini bertujuan untuk mendukung akademisi dalam meningkatkan program pelatihan kerja dan
menghasilkan hasil yang lebih akurat dan dapat digeneralisasikan. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih dapat diandalkan, disarankan agar penelitian selanjutnya melibatkan lebih banyak orang dan mengumpulkan ukuran sampel yang lebih besar.
pengalaman kerja melalui motivasi yang dapat menimbulkan semangat atau dorongan terhadap kesiapan kerja yang matang baik secara pengetahuan, keahlian dan informasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana taruna yang terdaftar pada program diploma tiga tahun API Banyuwangi dipersiapkan, khususnya terkait dengan motivasi dan pelatihan kerja. Dengan menyebarkan kuesioner, penelitian menggunakan metodologi kuantitatif dengan sampel sebanyak 26 taruna. Dengan menggunakan software SPSS 29, data yang terkumpul dilakukan
uji validitas, uji reliabilitas, analisis regresi berganda, uji hipotesis, analisis
koefisien determinasi, dan uji asumsi klasik. Studi ini menemukan bahwa dan On the Job Training dipengaruhi oleh motivasi, baik secara terpisah maupun kombinasi, mempunyai pengaruh yang kecil terhadap persiapan memasuki dunia kerja. Selain itu, analisis statistik menunjukkan bahwa nilai f dan nilai t masingmasing kurang dari atau sama dengan nilai f dan nilai t yang penting. Kesiapan kerja dipengaruhi oleh motivasi dan On the Job Training sebesar 8,7%, sedangkan variabel lain di luar model menyumbang 91,3% variasi. Dengan menawarkan kerangka konseptual yang lebih relevan untuk setiap program studi dan menciptakan taktik insentif karyawan yang lebih berhasil, penelitian ini bertujuan untuk mendukung akademisi dalam meningkatkan program pelatihan kerja dan
menghasilkan hasil yang lebih akurat dan dapat digeneralisasikan. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih dapat diandalkan, disarankan agar penelitian selanjutnya melibatkan lebih banyak orang dan mengumpulkan ukuran sampel yang lebih besar.
PENGARUH TINGGINYA JUMLAH TRAFFIC DI BANDARA BANYUWANGI TERHADAP PELATIHAN TERBANG DI AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI
Industri penerbangan yang terus berkembang membawa dampak signifikan terhadap pelatihan penerbang, khususnya di Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak tingginya jumlah traffic di Bandara Banyuwangi terhadap kualitas pelatihan terbang di Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Masalah utamanya adalah tingginya jumlah traffic yang menyebabkan berkurangnya jam terbang bagi taruna, mengurangi pengalaman praktik dan meningkatkan risiko keselamatan penerbangan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan traffic menghambat ketersediaan slot terbang dan mengurangi efektivitas pelatihan. Solusi yang diusulkan meliputi pengadaan Parallel Taxiway dan pengoperasian satellite base untuk mengurangi dampak tingginya jumlah traffic. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas pelatihan terbang di API Banyuwangi.
Pengaruh Tekanan Injeksi Bahan Bakar Avgas Terhadap Temperatur Injeksi
Penggunaan mesin pembakaran dalam sudah menjadi hal yang biasa dalam bidang transportasi khususnya dunia penerbangan, salah satunya adalah pesawat latih Cessna yang bermesin piston. Pengaruh tekanan injeksi bahan bakar terhadap temperatur injeksi telah menjadi fokus banyak penelitian karena berpotensi meningkatkan efisiensi pembakaran. Peningkatan tekanan injeksi bahan bakar pada avgas menyebabkan peningkatan temperatur injeksi dan juga meningkatkan stabilitas temperatur dalam proses injeksi.
PENGARUH SOCIAL LEARNING TERHADAP KOMPETENSI FLIGHT OPERATION OFFICER DIMEDIASI OLEH EMOTIONAL INTELLIGENCE STUDI DI AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI
Industri penerbangan membutuhkan Flight Operations Officer (FOO) yang sangat kompeten untuk memastikan operasi penerbangan yang aman dan efisien. Meskipun berbagai faktor yang mempengaruhi kompetensi telah banyak dibahas, hubungan spesifik antara Pembelajaran Sosial, Kecerdasan Emosional (EI), dan kompetensi pada FOO masih belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini mengkaji hubungan-hubungan tersebut menggunakan Teori Pembelajaran Sosial (SLT), yang menekankan peran pengamatan dan praktik, serta EI yang penting untuk kinerja dan kerja tim. Kompetensi FOO mencakup keterampilan teknis dan nonteknis, seperti kemampuan menilai dan memecahkan masalah, yang sangat penting dalam lingkungan penerbangan yang penuh tekanan.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses SLT dan tingkat EI mahasiswa FOO di Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi, mengevaluasi tingkat kompetensi FOO, menentukan pengaruh Pembelajaran Sosial terhadap EI dan kompetensi, serta mengeksplorasi peran mediasi EI dalam hubungan tersebut. Pendekatan kuantitatif digunakan, dengan mengumpulkan kuesioner terstruktur dari 72 mahasiswa FOO di API Banyuwangi sebagai sampel, memastikan validitas dan reliabilitas data. Analisis yang dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) mengonfirmasi bahwa Pembelajaran Sosial berpengaruh positif pada EI dan kompetensi, dengan
semua hubungan menunjukkan signifikansi statistik (p < 0,05). Pembelajaran Sosial memberikan dasar untuk memahami bagaimana pembelajaran melalui observasi dan pengalaman berkontribusi pada pengembangan keterampilan mahasiswa FOO, menunjukkan bahwa EI berperan sebagai pengaruh langsung dan mediator kompetensi. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa dengan EI yang lebih tinggi menunjukkan peningkatan dalam kemampuan menilai, memecahkan masalah, dan kerja tim sebagai komponen utama kompetensi FOO. Penelitian ini berfokus pada mahasiswa FOO di API Banyuwangi, mengkaji variabel dan kompetensi spesifik yang relevan dengan peran FOO. Penelitian ini
terbatas pada konteks FOO dan melibatkan sampel 72 mahasiswa selama satu tahun akademik. Temuan menunjukkan bahwa program pelatihan untuk FOO akan mendapat manfaat dari penerapan metode pembelajaran berbasis EI, seperti simulasi, permainan peran, dan praktik berbasis umpan balik, untuk meningkatkan kompetensi yang diperlukan dalam kinerja operasi penerbangan yang efektif. Dengan mengkaji SLT, EI, dan kompetensi di antara mahasiswa FOO, penelitian ini memberikan kontribusi bagi pendidikan, membangun teori Bandura dan Goleman serta menekankan bagaimana integrasi SLT dan EI dalam kurikulum penerbangan dapat lebih baik mempersiapkan mahasiswa menghadapi situasi sesungguhnya.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses SLT dan tingkat EI mahasiswa FOO di Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi, mengevaluasi tingkat kompetensi FOO, menentukan pengaruh Pembelajaran Sosial terhadap EI dan kompetensi, serta mengeksplorasi peran mediasi EI dalam hubungan tersebut. Pendekatan kuantitatif digunakan, dengan mengumpulkan kuesioner terstruktur dari 72 mahasiswa FOO di API Banyuwangi sebagai sampel, memastikan validitas dan reliabilitas data. Analisis yang dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) mengonfirmasi bahwa Pembelajaran Sosial berpengaruh positif pada EI dan kompetensi, dengan
semua hubungan menunjukkan signifikansi statistik (p < 0,05). Pembelajaran Sosial memberikan dasar untuk memahami bagaimana pembelajaran melalui observasi dan pengalaman berkontribusi pada pengembangan keterampilan mahasiswa FOO, menunjukkan bahwa EI berperan sebagai pengaruh langsung dan mediator kompetensi. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa dengan EI yang lebih tinggi menunjukkan peningkatan dalam kemampuan menilai, memecahkan masalah, dan kerja tim sebagai komponen utama kompetensi FOO. Penelitian ini berfokus pada mahasiswa FOO di API Banyuwangi, mengkaji variabel dan kompetensi spesifik yang relevan dengan peran FOO. Penelitian ini
terbatas pada konteks FOO dan melibatkan sampel 72 mahasiswa selama satu tahun akademik. Temuan menunjukkan bahwa program pelatihan untuk FOO akan mendapat manfaat dari penerapan metode pembelajaran berbasis EI, seperti simulasi, permainan peran, dan praktik berbasis umpan balik, untuk meningkatkan kompetensi yang diperlukan dalam kinerja operasi penerbangan yang efektif. Dengan mengkaji SLT, EI, dan kompetensi di antara mahasiswa FOO, penelitian ini memberikan kontribusi bagi pendidikan, membangun teori Bandura dan Goleman serta menekankan bagaimana integrasi SLT dan EI dalam kurikulum penerbangan dapat lebih baik mempersiapkan mahasiswa menghadapi situasi sesungguhnya.
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS APLIKASI SIMBRIEF TERHADAP HASIL BELAJAR MATA KULIAH FLIGHT PLANNING PADA DIPLOMA 3 OPERASI PESAWAT UDARA DI AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh penggunaan media pembelajaran berbasis aplikasi simbrief terhadap hasil belajar mata kuliah flight planning pada diploma 3 operasi pesawat udara di Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Untuk instrumen penelitian, peneliti menggunakan kuesioner. Jumlah responden dalam penelitian ini yaitu 60 orang. Terdiri dari Taruna diploma 3 Operasi Pesawat Udara Angkatan 2 dan 3. Peneliti menggunakan aplikasi SmartPLS untuk mengolah jawaban dari responden. Teknik analisis data dalam
penelitian kuantitatif ini adalah analisis statistik deskriptif. Teknik ini digunakan untuk mengetahui korelasi antara media pembelajaran berbasis aplikasi simbrief dan hasil belajar mata kuliah flight planning pada diploma 3 operasi pesawat udara. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis aplikasi Simbrief berpengaruh terhadap hasil belajar mata kuliah flight planning.
penelitian kuantitatif ini adalah analisis statistik deskriptif. Teknik ini digunakan untuk mengetahui korelasi antara media pembelajaran berbasis aplikasi simbrief dan hasil belajar mata kuliah flight planning pada diploma 3 operasi pesawat udara. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis aplikasi Simbrief berpengaruh terhadap hasil belajar mata kuliah flight planning.

