Browse Items (96 total)
Sort by:
ANALISA RISIKO AKTIVITAS MARSHALLING DI APRON AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI
Salah satu kegiatan penerbangan yang krusial dilakukan oleh taruna
Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi adalah aktivitas marshalling. Aktivitas ini memiliki risiko kecelakaan jika tidak dilakukan dengan benar dan tidak sesuai dengan prosedurnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas marshalling di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, studi pustaka, dan wawancara untuk memperoleh pemahaman mendalam terkait dengan risiko-risiko yang muncul dari aktivitas marshalling yang dilakukan oleh taruna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa bahaya dalam aktivitas marshalling terutama kurangnya kesadaran terhadap penggunaan alat pelindung diri. Analisis risiko menunjukkan perbedaan penilaian risiko antara hasil dari dokumen KP-API. BWI tahun 2023 dengan ICAO Doc. 9859 tentang Safety Management Manual. Hasil wawancara juga mengungkapkan bahwa responden menyadari bahaya dari risiko terkait marshalling, tetapi penggunaan peralatan yang tidak selalu konsisten karena keterbatasan peralatan. Sementara itu terdapat fakta bahwa tidak ada HIRA terkait marshalling di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi dan taruna juga tidak mendapatkan pelatihan khusus serta tidak memiliki kompetensi. Penelitian ini berkontribusi signifikan dalam upaya meningkatkan keselamatan terkait aktivitas marshalling di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi.
Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi adalah aktivitas marshalling. Aktivitas ini memiliki risiko kecelakaan jika tidak dilakukan dengan benar dan tidak sesuai dengan prosedurnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas marshalling di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, studi pustaka, dan wawancara untuk memperoleh pemahaman mendalam terkait dengan risiko-risiko yang muncul dari aktivitas marshalling yang dilakukan oleh taruna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa bahaya dalam aktivitas marshalling terutama kurangnya kesadaran terhadap penggunaan alat pelindung diri. Analisis risiko menunjukkan perbedaan penilaian risiko antara hasil dari dokumen KP-API. BWI tahun 2023 dengan ICAO Doc. 9859 tentang Safety Management Manual. Hasil wawancara juga mengungkapkan bahwa responden menyadari bahaya dari risiko terkait marshalling, tetapi penggunaan peralatan yang tidak selalu konsisten karena keterbatasan peralatan. Sementara itu terdapat fakta bahwa tidak ada HIRA terkait marshalling di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi dan taruna juga tidak mendapatkan pelatihan khusus serta tidak memiliki kompetensi. Penelitian ini berkontribusi signifikan dalam upaya meningkatkan keselamatan terkait aktivitas marshalling di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi.
OPTIMALISASI PENGAWASAN PENGGUNAAN SAFETY EQUIPMENT PERSONEL PENERBANGAN DI APRON AKADEMI PENERBANG INDONESIA BANYUWANGI
Tugas akhir ini bertujuan untuk memberikan evaluasi dan mengoptimalisasi pengawasan penggunaan safety equipment personel
penerbangan di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang melibatkan observasi langsung, wawancara serius dengan pihak terkait dengan operasional penerbangan dan analisis dokumen terkait kebijakan pengawasan penggunaan safety equipment di area apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada SOP atau aturan yang mengatur
pengawasan penggunaan safety equipment di area tersebut, sehingga tidak ada pedoman untuk mengoptimalkan pengawasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi pengawasan meliputi kesadaran individu dan komitmen terhadap keselamatan. Strategi yang diusulkan mencakup pembuatan SOP atau aturan terkait, penunjukan unit yang bertanggung jawab, serta pelaksanaan sosialisasi dan refreshment mengenai pentingnya penggunaan safety equipment serta pengawasan yang seharusnya dilakukan oleh pihak berwenang. Saran yang diberikan adalah pembuatan SOP atau aturan mengenai pengawasan penggunaan safety equipment dan penunjukan personel atau unit yang bertanggung jawab di apron. Setelah SOP diberlakukan, perlu dilakukan sosialisasi kepada semua personel atau pengguna apron, serta pengecekan rutin
di area apron. Selain itu, kerjasama dengan Angkasa Pura 2 diusulkan untuk mendelegasikan pengawasan apron di Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi.
penerbangan di apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang melibatkan observasi langsung, wawancara serius dengan pihak terkait dengan operasional penerbangan dan analisis dokumen terkait kebijakan pengawasan penggunaan safety equipment di area apron Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada SOP atau aturan yang mengatur
pengawasan penggunaan safety equipment di area tersebut, sehingga tidak ada pedoman untuk mengoptimalkan pengawasan. Faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi pengawasan meliputi kesadaran individu dan komitmen terhadap keselamatan. Strategi yang diusulkan mencakup pembuatan SOP atau aturan terkait, penunjukan unit yang bertanggung jawab, serta pelaksanaan sosialisasi dan refreshment mengenai pentingnya penggunaan safety equipment serta pengawasan yang seharusnya dilakukan oleh pihak berwenang. Saran yang diberikan adalah pembuatan SOP atau aturan mengenai pengawasan penggunaan safety equipment dan penunjukan personel atau unit yang bertanggung jawab di apron. Setelah SOP diberlakukan, perlu dilakukan sosialisasi kepada semua personel atau pengguna apron, serta pengecekan rutin
di area apron. Selain itu, kerjasama dengan Angkasa Pura 2 diusulkan untuk mendelegasikan pengawasan apron di Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi.
EVALUASI MARKA APRON BRAVO DI BANDAR UDARA BANYUWANGI
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi marka apron Bravo di Bandar Udara Banyuwangi. Evaluasi ini penting untuk memastikan keselamatan dan efisiensi operasi penerbangan di apron tersebut. Observasi langsung di lapangan, dokumentasi pengumpulan data, dan analisis deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan. Menurut hasil penelitian, beberapa marka apron tidak memenuhi standar
yang ditetapkan oleh aturan dan regulasi yang berlaku. Beberapa marka perlu diperbaiki atau pembaharuan untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi pergerakan pesawat di apron Bravo. Rekomendasi yang diberikan mencakup perbaikan marka, peningkatan pelatihan bagi personel apron movement control, dan peninjauan rutin terhadap kondisi marka. Penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan standar
keselamatan dan efisiensi di Bandar Udara Banyuwangi, serta menjadi acuan bagi evaluasi marka apron di bandar udara lainnya.
yang ditetapkan oleh aturan dan regulasi yang berlaku. Beberapa marka perlu diperbaiki atau pembaharuan untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi pergerakan pesawat di apron Bravo. Rekomendasi yang diberikan mencakup perbaikan marka, peningkatan pelatihan bagi personel apron movement control, dan peninjauan rutin terhadap kondisi marka. Penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan standar
keselamatan dan efisiensi di Bandar Udara Banyuwangi, serta menjadi acuan bagi evaluasi marka apron di bandar udara lainnya.
ANALISIS PERBANDINGAN FUEL CONSUMPTION UNTUK
PENGANGKUTAN CARGO ANTARA AIRBUS A320 CEO DAN A320 NEO RUTE CENGKARENG – UJUNG PANDANG MENGGUNAKAN
METODE SEGMENTED DI PT CITILINK INDONESIA
Fuel consumption merupakan salah satu bagian terpenting dalam menentukan keuntungan maskapai terlebih lagi apabila suatu maskapai dapat membuat strategi yang baik dari sisi efisiensi fuel consumption yang akan memberi keuntungan jangka panjang bagi maskapai. Untuk menciptakan efisiensi fuel consumption maka dibutuhkan peran Flight Operation Officer dalam membuat perencanaan penerbangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mencari deviasi fuel consumption antara Airbus A320 CEO dan A320 NEO untuk angkutan cargo
dengan metode perhitungan segmented berdasarkan buku panduan atau Flight Crew Operation Manual (FCOM) A320 milik PT Citilink Indonesia serta memberikan gambaran fuel cost dalam satuan kilogram cargo. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan kontirbusi terhadap industri penerbangan.
dengan metode perhitungan segmented berdasarkan buku panduan atau Flight Crew Operation Manual (FCOM) A320 milik PT Citilink Indonesia serta memberikan gambaran fuel cost dalam satuan kilogram cargo. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan kontirbusi terhadap industri penerbangan.
OPTIMALISASI PENANGANAN PENYEBAB DELAY TERHADAP ON TIME PERFORMANCE
Penerbangan menggunakan layanan maskapai merupakan pengalaman yang memadukan sisi keamanan, kenyamanan, dan efisiensi. Tetapi faktanya, maskapai Citilink Indonesia belum bisa memberikan pelayanan yang terbaik, termasuk berangkat dan tiba tepat waktu kepada seluruh penumpang Citilink Indonesia. Menurut Aras (2023), tingkat ketepatan waktu keberangkatan dan ketepatan waktu kedatangan penerbangan Citilink Indonesia pada Quartal 4 tahun 2022 dibawah target OTP yang
sudah ditetapkan yaitu 90%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor penyebab delay, mengetahui penanganan penyebab delay, dan memberikan rekomendasi bagi Citilink Indonesia dalam penanganan penyebab delay terhadap on time performance. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan objek penelitian data delay report Citilink Indonesia pada bulan November 2023, dan teknik pengumpulan
data melalui studi pustaka dan wawancara dengan pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknik dan operasional dibandara keberangkatan memberikan delay yang signifikan terhadap data delay report Citilink Indonesia pada bulan November 2023.
sudah ditetapkan yaitu 90%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor penyebab delay, mengetahui penanganan penyebab delay, dan memberikan rekomendasi bagi Citilink Indonesia dalam penanganan penyebab delay terhadap on time performance. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan objek penelitian data delay report Citilink Indonesia pada bulan November 2023, dan teknik pengumpulan
data melalui studi pustaka dan wawancara dengan pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknik dan operasional dibandara keberangkatan memberikan delay yang signifikan terhadap data delay report Citilink Indonesia pada bulan November 2023.
ANALISIS JUMLAH BLOCK FUEL PESAWAT AIRBUS A-320 PADA RUTE PENERBANGAN CENGKARENG- MAKASSAR PT. CITILINK INDONESIA BERDASARKAN VARIASI FLIGHT LEVELDENGAN PENDEKATAN METODE QUICK DETERMINATION PERIODE OKTOBER- NOVEMBER 2023
Penelitian ini menganalisis jumlah block fuel pesawat Airbus A-320 pada rute penerbangan Cengkareng-Makassar berdasarkan variasi flight leveldengan pendekatan metode Quick Determination (QDT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah block fuel bervariasi pada berbagai flight level. Pada FL 310, block fuel yang paling efisien adalah 10.962 kg, FL 330 adalah 10.790 kg, FL 350 adalah 10.670 kg, dan FL 370 adalah 10.753 kg. Berdasarkan perhitungan metode QDT, FL paling efisien untuk penerbangan CGK-UPG adalah FL 350 dengan rata-rata
block fuel 10.785 kg, sedangkan untuk penerbangan Cengkareng-Makassar dengan alternate Bali adalah FL 280. Pesawat yang menggunakan winglet terbukti lebih efisien dalam jumlah bahan bakar dibandingkan dengan pesawat yang menggunakan sharklet. Faktor-faktor yang mempengaruhi seorang Flight Operations Officer (FOO) dalam menentukan flight leveluntuk rute CGK-UPG meliputi berat dan kemampuan mesin pesawat, kondisi cuaca, analisis turbulensi, serta jarak penerbangan. Selain itu, konfigurasi pesawat yang menggunakan winglet ataupun sharklet dan pemilihan alternate juga mempengaruhi jumlah block fuel yang dibutuhkan.
block fuel 10.785 kg, sedangkan untuk penerbangan Cengkareng-Makassar dengan alternate Bali adalah FL 280. Pesawat yang menggunakan winglet terbukti lebih efisien dalam jumlah bahan bakar dibandingkan dengan pesawat yang menggunakan sharklet. Faktor-faktor yang mempengaruhi seorang Flight Operations Officer (FOO) dalam menentukan flight leveluntuk rute CGK-UPG meliputi berat dan kemampuan mesin pesawat, kondisi cuaca, analisis turbulensi, serta jarak penerbangan. Selain itu, konfigurasi pesawat yang menggunakan winglet ataupun sharklet dan pemilihan alternate juga mempengaruhi jumlah block fuel yang dibutuhkan.

